Pasar Rintisan Mantan TKI Lampung Timur yang Pernah Berjaya...

Bekerja ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah keputusan perubahan hidup yang penting dan Anda harus mempersiapkannya dengan baik dan warga Lampung sekitarnya bisa Melalui PJTKI RESMI LAMPUNG / PPTKIS RESMI LAMPUNG. Banyak TKI dari Lampung yang bekerja keluar negeri dan sukses dan mendirikan usaha Pasar.


Diambil dari Kompas.com
Katami (48) pemilik kios pecah belah. Diketahui adalah seorang purna pekerja migran Indonesia (PMI) dari Lampung Timur. Lebih dari lima tahun ia menghabiskan waktunya untuk berniaga di pasar yang awalnya dirintis alumni PMI.

Blok tempat kios Katami berdiri, terlihat penuh terisi. Ada kios sepeda dan onderdilnya, kios furniture, kios pakaian,kios foto copy, dan pulsa. 

Beberapa blok kios lainnya terlihat tak berpenghuni. Aktivitas jual beli pun terasa senyap tak bergairah pada siang itu. 

“Ya beginilah kondisinya setiap hari, tapi ya ada saja yang membelinya,” kata Katami saat ditemui Kompas.com, sepekan lalu. Meski terlihat sepi, Katami mengaku, usahanya hingga kini terus berjalan. 

Tak pelak setiap hari, dia meraup keuntungan tak kurang dari ratusan ribu rupiah. "Memang tidak terlalu ramai mbak, tetapi setiap hari ada saja yang belanja. Dalam sehari, sepi-sepi begini lumayanlah, bisa meraup keuntungan Rp200 ribu-300 ribu rupiah per hari," lanjutnya. 

Dia pun mengaku, telah memiliki lima kios di pasar tersebut. Beberapa digunakan untuk gudang, sisanya display dagangan. Lima tahun ia merantau ke negeri orang, menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT). Gaji demi gaji per bulan dia kumpulkan, membuatnya mampu mengembangkan usaha pecah belah di pasar itu. 

Ketika ditanya, lebih senang menjadi PMI atau pengusaha? Katami bersemangat menjawab, “Lebih enak jadi pengusaha, apalagi di kampung sendiri lebih tenang karena lebih dekat dengan keluarga,” tuturnya. Dia pun lebih mantap untuk tidak lagi menjadi pekerja di luar negeri.

Pengalaman serupa dirasakan Lilis Sofiah (46), warga Labuhan Ratu, Lampung Timur. Nasib baiknya selama menjadi buruh migran berbuah hasil. Gaji dari kontrak pertama, ia manfaatkan untuk membeli kios di pasar itu. 
"Awalnya saya beli kios akhirnya membeli isi dengan pakaian yang dapat dijual dan akhirnya kios saya terus bertambah," kata Lis. Bahkan dari kios Lis itulah, warga bisa utang membeli pakaian seragam anak sekolah. 

Setelah 11 tahun berstatus sebagai PMI di Arab Saudi dan Hong Kong, baru tersadarkan membuka usaha di kampung setelah mendengar ada yang berhasil dengan berniaga. 
Semakin sering berinteraksi dengan masyarakat, Lis akhirnya termotivasi untuk maju pada bursa pencalegan. 

"Saya butuh modal dan saya pergi lagi. Nah kali ini saya ke Taiwan, tujuannya untuk mencari biaya politik," tuturnya sambil tertawa lepas. Tapi sayang usahanya belum berhasil. Lis tidak lolos dalam bursa penentuan calon legislatif. 
Kesuksesan kedua perempuan purna PMI membuka lapak juga turut dirasakan purna pekerja migran lainnya. Khususnya di Desa Labuhan Ratu, Kabupaten Lampung Timur. Lis juga bergabung dalam sebuah gerakan Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Lampung Timur. 


Salah satu kegiatannya, mengadvokasi masyarakat, memberi pembekalan kepada calon PMI yang berasal dari desanya. “Selain itu, kami para purna PMI menggalang dana kemanusian untuk gempa di Lombok, NTB,” bebernya.



Subscribe to receive free email updates: