Gaji TKW PRT Hong Kong Terbaru 2020 Naik Menjadi HK$ 4,630



Kabar gembira bagi Pekerja Migran Hong Kong2020 gaji naik!...

Pemerintah Hong Kong, Jumat (27/9/2019), mengumumkan bahwa gaji minimum pekerja rumah tangga (PRT) asing naik sebesar 2,4 persen. Dengan begitu, gaji standar pekerja migran Indonesia (PMI) Hong Kong yang bekerja sebagai PRT menjadi HK$4,630 per bulan, dari sebelumnya HK$4,520.

Kabar gembira ini di sambut baik oleh calon Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang akan bekerja ke Hong Kong job informal atau Pekerja Rumah Tangga (PRT).


Diumumkan pula, kenaikan tunjangan makan sebesar HK$46. Dari sebelumnya tak boleh kurang dari HK$1,075 sebulan menjadi HK$1,121. Sebagaimana tertuang dalam kontrak kerja standar, majikan diharuskan menyediakan makan gratis untuk pekerja rumah tangga asingnya. Namun, majikan dapat memilih untuk membayar uang tunjangan makan sebagai pengganti penyediaan makan gratis.

“Standar baru gaji dan tunjangan makan akan berlaku untuk semua kontrak kerja yang ditandatangani pada atau setelah 28 September 2019,” demikian diaran pers yang dipublikasikan website resmi Pemerintah Hong Kong, info.gov.hk. [DDHKNews]

INFORMASI PENDAFTARAN KERJA KE HONG KONG GAJI 8 JUTA LEBIH

MELALUI PT. PJTKI RESMI - AMAN - TERPERCAYA

Bpk Agus Asrori
Hp/Wa : 0812 3549 1898 (Simpati)
Hp/Wa : 0856 0802 8600 (Indosat)

86 Pekerja Migran Indonesia (TKI) di Hong Kong Sukses Jadi Sarjana


Hong Kong - Hebat dan membanggakan, 86 pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong berhasil meraih gelar sarjana S1 dari Universitas Terbuka (UT).

Para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di sektor Informal (PRT) didalam kesibukannya bekerja masih menyempatkan diri menempuh pendidikan Formal.

"Sejak UT dibuka pada tahun 2014, sampai saat ini sudah mewisuda 86 PMI di Hong Kong," kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar RI di Beijing Yaya Sutarya seperti dikutip dari Antara News, Jumat (3/1/2020).

Menurut Yaya Sutarya, sebanyak 233 mahasiswa UT yang didominasi para pekerja perempuan Indonesia itu mengikuti ujian semester menjelang akhir tahun lalu.

Mereka menempuh berbagai disiplin pendidikan jenjang S1 di Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) dan Fakultas Ekonomi dengan enam jurusan, yakni Sastra Inggris, Hukum, Komunikasi, Administrasi Bisnis, Akuntansi, dan Manajemen.

Atdikbud KBRI Beijing yang tugasnya melingkupi China, Hong Kong, Makau, dan Mongolia itu akan terus membantu meningkatkan jumlah mahasiswa UT.

"Kalau dihitung-hitung, jumlah peserta UT itu hanya 15 persen dari keseluruhan PMI kita yang bekerja di Hong Kong," kata Yaya menambahkan.

Sekolah dengan Biaya Sendiri
Sejauh ini, para TKI yang mengikuti program perkuliahan di UT mengeluarkan biaya sendiri. Perkuliahan dilakukan melalui mekanisme jarak jauh dan tatap muka secara berkala.

"Pemerintah harus mendukung penuh kegiatan ini untuk membantu para pekerja kita di luar negeri terhindar dari perbuatan negatif," ujar Atdikbud Kedutaan Besar RI di Beijing Yaya Sutarya

Jumlah PMI di Hong Kong saat ini diperkirakan mencapai angka 180.000 orang, yang didominasi kaum pekerja perempuan di sektor informal dengan masa kontrak kerja dua tahun dan bisa diperpanjang sesuai kesepakatan antara pekerja dan majikan.

Sumber : liputan6.com

Patut Di Contoh, Pemkab Trenggalek Kirim 10.000 Masker untuk Pekerja Migran di Hongkong


Kabupaten Trenggalek Salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang menjadi pengirim tenaga kerja Indonesia (TKI) terbanyak ke luar negeri dengan negara tujuan diantaranya Hong kong, Taiwan, Singapura dan Malaysia.

Diantara mereka ada yang mendaftarkan diri melalui PJTKI RESMI di Daerah Tulungagung, di proses dengan baik sesuai prosedur lancar, aman sampai terbang.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek sangat memperhatikan Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. Dan baru-baru ini perhatian itu di wujudkan dengan pengriman masker ke Hong kong.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengirim 10.000 masker ke Hong Kong, Selasa (11/2/2020).

Masker dikirim untuk para Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di negara tersebut.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan, pengiriman masker ini karena banyak permintaan dan kebutuhan dari para PMI asal Trenggalek yang bekerja di sana.


Pengiriman itu juga agar para PMI dan WNI bisa terhindar semaksimal mungkin dari virus corona.

Apalagi sejak beberapa waktu terakhir, mereka melaporkan kelangkaan masker setelah banyaknya infeksi akibat virus tersebut.

Kalaupun ada, harga masker di sana terbilang mahal setelah virus corona menyerang.
Akibatnya PMI dan WNI, termasuk yang berasal dari Trenggalek, kesulitan mendapat pelindung mulut dan hidung itu.

Sebanyak 10.000 masker itu dikirim lewat Kantor Pos Indonesia ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong.

"PMI di Hong Kong nanti bisa ambil di konsulat. Sudah kami koordinasikan," ujar pria yang akrab disapa Mas Ipin itu.

Masker yang dikirim merupakan persediaan di Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Trenggalek.

Dinas tersebut punya stok sebanyak 16.000 masker.


Lebih dari separo dikirim untuk para PMI dan WNI yang kini berada di Hong Kong.

Plt Kepala Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek Saeroni menambahkan, negara tujuan pengiriman masker untuk saat ini baru Hong Kong.

Ke depannya, pengiriman masker ke negara lain akan menyesuaikan situasi dan kondisi.


Sampai saat ini, Hong Kong masih menjadi negara tujuan favorit para PMI asal Trenggalek.

Negara lain yang juga banyak dituju adalah Taiwan.

Hingga saat ini, Saeroni memastikan belum ada laporan PMI atau WNI asal Trenggalek yang terinfeksi virus corona.

"Sampai saat ini belum ada," pungkasnya.



Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Pemkab Trenggalek Kirim 10.000 Masker untuk Pekerja Migran di Hongkong, https://surabaya.tribunnews.com/2020/02/11/pemkab-trenggalek-kirim-10000-masker-untuk-pekerja-migran-di-hongkong?page=2.
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Titis Jati Permata

Kisah Inspiratif Chen Lili TKI Taiwan Sukses Jadi Pengusaha di Taiwan

Kisah, Chen Lili, TKI, Sukses, Jadi, Pengusaha, di Taiwan

Kaohsiung - Tampil sederhana, berjilbab, dengan logat khas Jawa Timur. Seperti itulah tampilan Lili Inayati atau biasa dipanggil Chen Lili, warga negara Indonesia yang kini tinggal di Kaohsiung, Taiwan.

Raut mukanya sangat ceria ketika tempatnya didatangi oleh orang-orang asal negaranya, Indonesia. Mungkin, tak banyak orang Indonesia yang mengenal Chen Lili, namun dia cukup terkenal di kalangan TKI di kawasan Kaohsiung.

Lili sendiri merupakan mantan TKI Tenaga Kerja Indonesia yang kini membuka usaha sendiri. Saat ini dia sudah sukses membuka usaha kuliner halal asli Indonesia dengan omzet ratusan jutanya setiap bulan di Kaohsiung, Taiwan.

Lili pun bercerita bagaimana awalnya dia bisa membuka bisnis rumah makan di Taiwan. Dia mengatakan pada tahun 2000 lalu, dia datang ke Taiwan untuk bekerja sebagai seorang TKI karena kondisi yang bisa dibilang terpaksa.

Sebab, Lili sendiri sebelumnya sudah memiliki sebuah usaha toko di tempat asalnya, yakni di Kampung Inggris Pare, Kediri Jawa Timur. Namun saat krisis moneter melanda, usahanya juga terkena dampak. Orang-orang yang banyak berutang di warungnya tak bisa membayar, hingga akhirnya dia bangkrut.

"Awalnya kerja, itu tahun 2000. Kerjaannya Jaga orang tua, jaga orang sakit. Mulai dari mandiin, masakin, apa aja lah," kata Lili saat ditemui detikFinance di rumah makannya, Kaohsiung, Selasa (24/7/2018).

"Jadi TKI karena (krisis) moneter, saya juga dulu buka warung di Indonesia, buka toko, lalu kena moneter, uang pada di orang-orang dan nggak kembali. Gara-gara diutang orang nggak bisa kembali, modal habis. Kita lari ke Taiwan," sambungnya.

Lili mengaku, bahwa dirinya memilih sebagai tempat tujuan bekerja karena dirasa paling aman untuk para TKI dibanding negara-negara lain. Lama bekerja di sana, kemudian Lili bertemu dengan jodohnya yang merupakan pria asli Taiwan. Mereka kemudian menikah pada 2006.

Walau menikahi pria asli Taiwan, bukan berarti semua usaha yang dijalankan Lili sekarang karena bantuan sang suami, atau bahkan diberi modal suami. Dia memulai semua usahanya sendiri dari titik nol, dengan dukungan sang suami.

"Semuanya dari nol. Kalau yang dimodalin kan yang suaminya kaya, tapi kan suamiku nggak kaya. Jadi kita berjuang sendiri. Makanya alhamdulillah, nomor satu dia nggak kaya, yang penting muslim, mualaf ikut saya. Masalah uang kita bisa cari," katanya.

Sejak menjadi TKI pada tahun 2000 lalu, Lili sudah mulai bisa menabung. Penghasilannya sebagai TKI saat itu tergolong cukup besar, yakni kisaran 16.700 NTD, atau lebih dari Rp 3 juta dengan kurs Rp 300/NTD saat itu.

Setelah menikah, Lili kemudian pindah bekerja di rumah sakit. Namun bekerja di rumah sakit tak membuat Lili nyaman karena jam kerja yang membuatnya lelah. Selepas itu, Lili kemudian memilih untuk fokus menjalankan hobi memasaknya dan menjual sejumlah masakan di warung-warung asal Indonesia.

"Jadi mulai jual kue-kue, peyek, kerupuk, apa saja deh yang orang pesan. Ya sambel juga. Terus kirim ke teman-teman yang (kerjanya) jaga orang tua, yang nggak bisa keluar. Pesen apa saya masakin. Terus ikut lomba-lomba masak, alhamdulillah saya suka menang. Terus banyak yang bilang, 'masakan kamu enak' ko nggak buka warung'" cerita Lili.

Dari sana lah kemudian Lili mulai berpikir untuk membuka usaha kuliner yang serius dengan membuka warung. Namun, kata Lili, membuka usaha kuliner di Taiwan lebih sulit dibandingkan membuka usaha di Indonesia.

Ada sejumlah kesulitan yang dialami Lili saat berencana membuka warung. Mulai dari masalah modal, mencari tempat yang strategis, hingga masalah percaya diri. Lili takut bila masakannya kurang diminati oleh orang-orang.

Kisah Cheng Lili, TKI yang Sukses Jadi Pengusaha di Taiwan
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance

Kisah Cheng Lili, TKI yang Sukses Jadi Pengusaha di Taiwan
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance

Namun karena didukung sang suami, Lili akhirnya mencoba peruntungan itu. Dia membuka usahanya pertama kali pada 2010. Saat itu modal yang dibutuhkan sekitar 300.000 NTD atau sekitar Rp 138 juta. Dengan modal yang dimiliki dan meminjam uang kepada kerabat, Lili lalu membuka warung pertamanya.

Sayangnya, usaha Lili untuk membuka warung makan khas Indonesia hanya bertahan dua tahun karena tempatnya yang kurang strategis. Dia pun melanjutkan bisnisnya secara online

"Cuma dua tahun karena tempatnya sering banjir, di daerah agak kampung, di Kaohsiung juga. Terus akhirnya tutup. Setelah tutup, terus kita jualan online saja di rumah," jelasnya.

Kemudian pada 2016, Lili kembali membuka warung di tempat yang lebih strategis dekat stasiun Kaohsiung. Di sana, ternyata warung milik Lili cukup diminati. Bahkan dalam waktu dua bulan, dia mengaku sudah bisa balik modal. Karenanya, Lili pun kemudian membuka warung kedua dengan lokasi yang lebih strategis.

"Setelah buka di tempat terakhir itu, terus banyak mahasiswa sama orang-orang, dosen-dosen dari Indonesia menyarankan saya buka restauran yang agak bagus, nggak jadi satu sama orang-orang pekerja di sana. Akhirnya cari tempat terus buka di sini juga (tempat kedua)" kata dia.


Dari usahanya itu, Lili kini telah bisa membeli rumah di Taiwan seharga 5,5 juta NTD, atau sekitar Rp 2,6 miliar secara tunai. Sementara omzetnya saat ini rata-rata mencapai 300.000 NTD atau sekitar Rp 140 juta per bulan.

"Makanya alhamdulillah sekali saya sekarang terus bersyukur. Bisa lebih untuk makan. Mulai semuanya dari 0. Dulu kulkas saja beli bekas. Itu yang masak saya sendiri. Pegawai waktu itu cuma dua, sekarang saya sudah punya 18 karyawan, alhamdulillah," tuturnya.



TAIWAN - HONG KONG - SINGAPURA - MALAYSIA
RESMI, AMAN DAN TERPERCAYA
BPK. AGUS ASRORI

HP / WA : 0812 3549 1898 Telkomsel
HP / WA : 0856 0802 8600 Indosat

Berita di ambil dari Detik.com

Bekerja Menjadi TKI di Taiwan Bisa Dapat Rp 10 Juta/Bulan


Jakarta - Sebagian orang Indonesia banyak yang memilih profesi menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di berbagai negara, salah satunya Taiwan.

Dengan menjadi TKI, banyak yang berpikir bisa mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lebih besar dibanding bekerja di Indonesia. Lantas, berapa sih sebenarnya penghasilan seorang TKI seperti di Taiwan?

Salah seorang TKI di Taiwan, Titi Choiriyah mengatakan penghasilan TKI di Taiwan setiap bulannya sendiri cukup beragam. Namun, dia memperkirakan untuk para TKI baru rata-rata mendapatkan penghasilan sebesar 22.000 NTD/bulan untuk pekerja pabrik (22.000 NTD gaji pokok tahun 2018).
Dan untuk gaji pokok tahun 2020 23.100 NTD/bulan atau sekitar 10.5 juta.


"Sebenarnya gaji menjadi tenaga kerja Taiwan paling rendah 23.100 NTD untuk gaji pokok tahun 2020, itu kalau TKI pekerja pabrik Taiwan dan panti jompo Taiwan juga sama," kata Titi kepada detikFinance, di Pingtung Taiwan, Rabu (25/7/2018).

Nilai 23.100 NTD sendiri bila dirupiahkan bakal sekitar Rp 10,5 juta dengan kurs Rp 472/NTD. Nilai itu tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan pekerja buruh pabrik yang ada di Indonesia, di mana pemberi kerja sangat bergantung pada nilai Upah Minimum Provinsi/Regional (UMP/UMR) yang kisarannya rata-rata Rp 2-3 juta/bulan.

Lebih lanjut Titi menjelaskan, bahwa gaji TKI yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga (ART) lebih rendah dari pekerja pabrik. Rata-rata ART mendapat penghasilan sebesar 17.000 NTD/bulan atau sekitar Rp 8 juta.

"Setahu saya gaji pokok PRT (ART) cuma 17.000 NTD + uang lembur kalau sebulan 4 hari tidak libur 2.268 NTD tapi kalau libur di potong uang lemburnya, potong askes ,dan servise agen juga," ujar dia.


Walau mendapatkan penghasilan yang tergolong tinggi, namun pengeluaran juga bisa lebih besar dibanding hidup di Indonesia. Mulai dari biaya makan, tempat tinggal, hingga masalah hiburan. Bila tak terkontrol, Titi mengatakan, biasanya uang para TKI bisa habis dan tak bisa disisakan untuk menabung.

"Jadi kalau buat yang kerja di pabrik-pabrik harus banyak lembur baru bisa nabung, tapi kalau untuk PRT kebanyakan makan dan tempat tinggal sudah ditanggung majikan, jadi udah pasti nggak boros, bisa nabung," tuturnya. (zlf/zlf)

INFORMASI KERJA KELUAR NEGERI
RESMI, AMAN DAN TERPERCAYA
BPK. AGUS ASRORI

HP / WA : 0812 3549 1898 Telkomsel
HP / WA : 0856 0802 8600 Indosat

Berita di ambil dari Detik.com

Mudahnya TKI Mengirimkan Uang, KlikAja Uang Sudah Terkirim

Resmi, Diluncurkan, LinkAja, Bisa, Digunakan, TKI, di, Luar, Negeri

Banyaknya Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri mendulang rezeki mengumpulkan pundi-pundi dollar untuk masa depan keluarga menjadi lebih baik. Khususnya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung salah satu daerah terbanyak penduduknya bekerja keluar negeri diantaranya proses melalui PJTKI RESMI Bpk Agus Asrori.

Karena banyaknya warga Indonesia yang berada di luar negeri baik sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ada pula yang sekolah atau kuliah di luar negeri, berwisata atau keperluan bisnis lainnya, kini pemerintah Indonesia melalui BUMN meluncurkan aplikasi pembayaran uang secara online yaitu LinkAja.

Setelah sempat tertunda-tunda, LinkAja akhirnya resmi diluncurkan pada Minggu (30/6/2019) di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Acara grand launching platform pembayaran pelat merah dihadiri antara lain oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Kominfo Rudiantara, hingga Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

"Tadi sudah melihat grand launching dari LinkAja yang turut dilakukan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Seperti mottonya LinkAja dari Indonesia untuk Indonesia. LinkAja adalah sistem pembayaran yang dikeluarkan oleh sinergi BUMN, dan dimiliki oleh BUMN," kata Rini.

Dia mengatakan, meskipun baru meluncur LinkAja juga sudah dapat digunakan untuk bertransaksi di luar negeri, misalnya di Singapura. Targetnya, LinkAja juga akan dapat digunakan di Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan, lantaran banyak pekerja migran Indonesia di negara tersebut

Dalam kesempatan yang sama, CEO PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) Danu Wicaksana bilang, transaksi di luar negeri tersebut bisa dilakukan lantaran pihaknya telah bekerjasama dengan operator asing.

"Di Singapura kami sudah bekerjasama dengan Singtel yang sudah punya merchant banyak. Jadi pengguna LinkAja di Singapura tinggal snap QR Code berlogo VIA yang merupakan platform cross border payment," kata Danu.

Saat ini, kata Danu, LinkAja sendiri memiliki 22 juta pengguna. Hingga akhir tahun, Finarya menargetkan  bisa mencapai 40 juta pengguna. Sementara rata-rata nilai transaksi LinkAja mencapai Rp 1 miliar per hari. (Anggar Septiadi)


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Akhirnya Resmi Diluncurkan, LinkAja Bisa Digunakan di Luar Negeri",

Editor : Erlangga Djumena
LOWONGAN KERJA KELUAR NEGERI
PJTKI / PPTKIS RESMI
"Untuk informasi selengkapnya Klik pada gambar atau tulisan di bawahnya"
Lowongan, Kerja, Keluar, Negeri, Pabrik, Taiwan
Pabrik Taiwan

klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, Perawat, Panti, Jompo, Taiwan
Perawat Taiwan
klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, PRT, Taiwan
PRT Taiwan

klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, PRT, Beby Sitter, Hong Kong
PRT Hong Kong

klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, PRT, Singapura
PRT Singapura

klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, Kerja, Ke, Malaysia
Kerja Ke
Malaysia
klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, Kerja, Ke, Brunei
Kerja Ke
Brunei
klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, Kerja, Ke, Kanada
Kerja Ke Canada
klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, Kerja, Ke, Jepang
Kerja Ke Jepang
klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, Kerja, Ke, China
Kerja Ke
China
klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, Kerja, Ke Pabrik, Luar, Negeri
 
Kerja Pabrik
klik disini
Lowongan, Kerja, keluar, Negeri, Kerja, Suami, Istri
 Kerja
Suami Istri
klik disini

Informasi selengkapnya hubungi :
Bpk Agus Asrori
Hp/Wa : 0812 3549 1898 (Simpati)
Hp/Wa : 0856 0802 8600 (Indosat) 
 

 

Upaya Penguatan Hak Pekerja Migran (TKI) lewat Kampus dan Sekolah

Upaya, Penguatan, Hak, TKI
Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah keputusan perubahan hidup yang penting dan Anda harus mempersiapkannya dengan baik dan harus daftar menjadi TKI melalui PJTKI RESMI / PPTKIS RESMI yang amanah dan terpercaya.

Pemerintah Indonesia terus berusaha untuk meningkatkan Hak-Hak Pekerja TKI (Migran) salah satunya melalui Kampus dan Sekolahan.
Dibawah ini Artikel diambil dari KOMPAS.COM

KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN Kemlu bersama Pusat Studi ASEAN Universitas Sumatera Utara (USU) Medan menggelar konsultasi publik 22 – 23 April 2019 guna meningkatkan awareness mengenai pelindungan dan pemajuan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Konsultasi Publik ditujukan meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mewujudkan Masyarakat Sosial Budaya ASEAN yang memperhatikan pelindungan dan pemajuan hak PMI di kawasan Asia Tenggara” ujar Riaz Saehu, Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Kemlu RI.

Berdasarkan data Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia-Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri RI, per tahun 2017 Indonesia merupakan salah satu negara pengirim pekerja migran terbesar di ASEAN sebesar 1.490.768 jiwa. Mayoritas bekerja pada sektor informal/domestik. Data BNP2TKI mencatat tahun 2017 sebanyak 17.106 pekerja berasal dari Sumatera Utara. Total PMI dari provinsi ini pada periode 2011-2017 sebesar 97.556 pekerja.

Kuliah umum dan "goes to school" 
Kegiatan hari pertama diisi kuliah umum menghadirkan narasumber dari Badan Nasional Penempatan dan Pelindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Kementerian Ketenagakerjaan yang berkedudukan di Medan, ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR), dan Universitas Sumatera Utara (USU).

Kuliah Umum dibuka Dekan Fakultas Hukum USU Medan, Prof. Budiman Ginting dan dihadiri sivitas akademika USU dan universitas lain. Kegiatan diskusi publik hari kedua diisi sosialisasi publik mengenai kerja sama ASEAN kepada ratusan siswa SMA di Medan mengangkat tema “ASEAN Goes to School”. Kegiatan ini diakhiri kunjungan ke Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja di Medan guna melihat secara langsung pemberian pelatihan kepada PMI.

Penguatan pekerja migran

Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN lebih lanjut menyampaikan kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk implementasi visi ASEAN 2025 yakni “Melangkah Maju Bersama” . "Kegiatan ini  bertujuan mengonsolidasikan pembangunan Masyarakat ASEAN, khususnya dalam meningkatkan kualitas hidup melalui kerja sama berorientasi pada rakyat, berpusat pada rakyat, dan digagas oleh rakyat," jelas Riaz Saehu.

Terkait peningkatan pelayanan dan keterampilan PMI, Riaz Saehu menyampaikan pemerintah telah merencanakan kegiatan pre-departure orientation dan reintegration program for returned migrant workers.

Riaz Saehu menyampaikan konsultasi publik mengenai pelindungan dan pemajuan hak-hak PMI kepada pemangku kepentingan di Indonesia menjadi program kerja Ditjen Kerja Sama ASEAN setelah disepakatinya ASEAN Consensus on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers pada KTT ASEAN ke-31, 14 November 2017 lalu.
Penulis : Yohanes Enggar Harususilo
Editor : Yohanes Enggar Harususilo

Mantan TKI Pelopor Kampung Buruh Migran Dengan Segudang Prestasi, Maizidah Salas


Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah keputusan perubahan hidup yang penting dan Anda harus mempersiapkannya dengan baik dan Melalui PJTKI RESMI / PPTKIS RESMI.


Dibawah ini adalah artikel tentang Maizidah Salas, Mantan TKI Pelopor Kampung Buruh Migran Dengan Segudang Prestasi. diambil dari blog blog.zendmoney.com
Pernahkah sobat migran mendengar Kampung atau Desa Buruh Migran? Ternyata pelopor Kampung Buruh Migran yang pertama adalah mantan TKI juga lho, yaitu Maizidah Salas. Pengalamannya sebagai TKI mendorong Maizidah untuk merintis Kampung Buruh Migran tersebut yang berlokasi di desa Tracap, Wonosobo. Bagaimana sih kisah TKI berprestasi ini?
Pada tahun 1996 ia pergi ke Korea untuk pertama kalinya bekerja sebagai TKI, namun hanya berlangsung selama 2 tahun. Hingga tahun 1998 saat Korea terkena krisis ekonomi, ia harus pulang ke Indonesia dan kembali mengalami kesulitan ekonomi karena tidak memiliki penghasilan. Ia terpaksa meminjam uang orangtuanya sebesar Rp 10.000.000 untuk pergi ke Taiwan menjadi TKI lagi. Namun pengalamannya bekerja di Taiwan sebagai TKI cukup menderita, bahkan ia sempat ditipu agennya yang membuat ia berstatus sebagai TKI ilegal dan ditangkap polisi Taiwan hingga dipulangkan lagi ke Indonesia.
Dengan latar belakang pengalamannya sebagai buruh migran dan keinginannya untuk mengubah citra buruh migran menjadi lebih positif, ia membentuk Solidaritas Perempuan Migran Wonosobo dengan kegiatan arisan yang diikuti 229 peserta yang merupakan para mantan TKI. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi organisasi Kampung Buruh Migran yang berpusat di Desa Tracap yang diresmikan BNP2TKI, yang bertujuan untuk melindungi, mencerdaskan, dan membangun ekonomi masyarakat didalamnya, dan saat ini telah mencapai 600 anggota mayoritas perempuan, terdiri dari BMI aktif, mantan BMI, beserta anggota keluarga mereka.
Selain diskusi bulanan yang membahas permasalahan terkait buruh migran, mereka juga memiliki program pemberdayaan seperti pemberdayaan keluarga TKI, koperasi simpan pinjam, PAUD gratis bagi anak buruh migran, usaha ternak kambing, dan budidaya jamur tiram. Maizidah berharap mereka dapat mandiri dan menjalankan usaha sendiri sehingga tidak perlu lagi menjadi TKI. Bahkan Kampung BMI sering didatangi mahasiswa sebagai pusat pembelajaran tentang pemberdayaan ekonomi buruh migran.
Saat ini Maizidah Salas ikut bergabung menjadi bagian dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jakarta dan mendapat tempat di divisi Pengembangan Ekonomi Buruh Migran. Bahkan ia juga melanjutkan pendidikannya dan mendapat gelar Sarjana Hukum. Ia juga sering diundang menjadi motivator bagi buruh migran di berbagai daerah.

PENGHARGAAN
Berikut penghargaan yang diraih Maizidah atas perjuangannya dalam melawan perdagangan buruh migran dan di bidang pendidikan:
  • Penghargaan dari Yahoo.com untuk kategori pendidikan atas upayanya dalam pendidikan anak anak TKI di usia dini,
  • (2018) menjadi  salah 1 dari 10 orang pejuang human trafficking seluruh dunia yang mendapat penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat dalam forum “Trafficking In Person (TIP) Report Heroes 2018,”
  • (2017) menjadi salah satu dari 164 orang penerima penghargaan “Anugerah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tingkat Nasional,”
  • (2015) dari Bupati Wonosobo,
  • (2015) “Kartini Next Generation” dari KOMINFO, KEMENEG, dan KEMENPORA,
  • (2015) “Perempuan Inisiatif” dari Nova,
  • (2015) “Perempuan Inisiatif” dari Garnita Malahayati,
  • (2014) “Kartini Masa Kini” dari Kick Andy,
  • (2012) dari UKM Centre Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,

PESAN UNTUK GENERASI MUDA
Maizidah selalu berpesan untuk generasi muda, jika ingin mengadakan perubahan, selalu mulai dari diri sendiri. Selain itu harus memiliki semangat untuk belajar karena proses belajar tidak akan pernah berhenti.
“Saya inginnya terus membangun SDM untuk teman-teman Wonosobo. Bukan hanya untuk para buruh migran saja. Saya sangat senang teman-teman sampai membuat organisasi pemuda di Wonosobo. Karena yang akan memegang dan menjadikan negeri seperti apa kan anak anak muda. Ke depan kita punya wacana anak-anak muda disini tidak perlu keluar daerah atau keluar negeri, tapi kita bangun daerah sendiri, dengan kemampuan kita sendiri, dengan ide kita masing masing, dengan cara kita sendiri. Yang bisa mengangkat nama keluarga dan daerahnya, syukur sampai mancanegara.” – Maizidah Salas
Diterbitkan oleh ZendMoney.

Informasi Kerja Keluar Negeri Selengkapnya Hubungi :

Bpk Agus Asrori
Hp/Wa : 0812 3549 1898 (Simpati)
Hp/Wa : 0856 0802 8600 (Indosat)
© Copyright 2019 PJTKI RESMI TERPERCAYA | All Right Reserved